Detik Terakhir

Author : Assyifa
Category : Sad
Cast : Anggara
Wizzy
Gege
Dycal
Angga Helan
Cuya
Bapak-Ibu Anggara

hallo hai🙂 Assyifa Widiastomo itu nama saya bikin cerita itu hobi saya😀 ini cerita udah duluuuu banget *masih jaman ingusan*😀 tapi pengen di share-in walopun ceritanya somplak banget jangan di kopi loh susah bikinnya nahan ketawa mulu😀 happy reading😀

————–o——————

Gara menatap sebuah surat tugas yang berada ditangannya. Surat tugas yang sudah 2 hari ini membuatnya bimbang. Ini memang bukan surat tugas biasa. Tugas untuk menenangkan peperangan antara Israel dan Palestina yang memang sudah tidak disorot media, tapi bukan berarti media sudah bosan menyiarkan perang kedua negara itu akhirnya perang berakhir begitu saja. Tidak. Karena itu beberapa tentara dari seluruh penjuru bumi akan ikut turun tangan meredakan peperangan itu. Tapi Gara merasa ia tidak bisa meninggalkan semua yang kini telah ia miliki.


    “Ngelamun aja.”sapa seseorang, dengan cepat Gara langsung mengantongi surat tugasnya itu.
    “Eh, kamu.”Gara semakin terlihat kikuk ketika melihat sosok yang telah duduk disampingnya. Wizzy, perempuan yang selama 10 bulan ini setia menemani hari-hari Gara.
“Ada masalah ya?”tanya Wizzy. Selalu begitu! Itu yang selalu membuat Gara gagal menyimpan rahasianya. Kekasihnya itu terlalu perhatian dan pengertian kepadanya.
“Enggak kok. Kata siapa aku lagi ada masalah.”elak Gara sambil menyunggingkan senyum termanisnya.
“Bohong.”kata Wizzy. Gara merasa semakin tertekan dengan perasaannya sendiri. Perasaan takut kehilangan jika dia ikut ke medan tempur.
“Jangan sekarang ya.”pinta Gara dengan wajah mengiba. Alih-alih memaksa mencari tahu, Wizzy malah tersenyum. Senyum yang selalu membuat kekerasan Gara melumer. Tapi kali ini tidak bisa. Gara belum ingin orang lain tahu tentang tugas ini. Gara melihat kekasihnya itu sedikit kecewa walaupun ia tetap berusaha tersenyum.
“Enggak akan lama lagi kamu akan tahu kok. Dari mulut aku
sendiri.”janji Gara akhirnya. Wajah Wizzy masih terlihat kecewa tapi ia yakin Gara tidak pernah berbohong, sebentar lagi ia pasti
mengetahui apa masalah Gara.


Keadaan menjadi hening. Hanya ada suara semilir angin yang
menghantarkan suara kicauan burung-burung mungil ke telinga sepasang
kekasih yang telah bergulat dengan pikirannya masing-masing.


*
Malam sudah sangat larut. Disaat semua orang sudah tertidur lelap
Gara masih membuka matanya lebar-lebar, memelototi surat tugas yang
sebenarnya ia sudah hafal isinya. Pikirannya selalu berisi orang-orang
yang terancam nyawanya, orang tuanya, dan Wizzy. Ia tidak bisa pergi
untuk bertempur dengan taruhan nyawanya sendiri tapi sungguh egois
jika orang-orang yang tidak bersalah itu semakin banyak yang menghadap
ke Tuhan dan ia santai-santai pacaran di rumah. Gara bingung dengan 2
pilihan itu.


Tiba-tiba handphone yang ia letakkan dimeja menyenggolkan diri
ketangan Gara. Nama yang tertera di layar handphonenya membuat Gara
semakin gamang. Komandan Dycal. Dia pasti menanyakan keputusan Gara,
padahal Gara sendiri belum bisa memastikan ia akan pergi atau tidak.
Gara menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri.


“Halo, Assalamualaikum.”salam Gara ketika mengangkat telepon dari
komandannya itu.
“Walaikumsalam. Kamu pasti sudah tahu maksud saya menelepon kamu
malam ini.”ujar Pak Dycal tanpa berbasa-basi sedikitpun.
“Tapi saja belum bisa memutuskan hal itu untuk saat ini, Komandan.”jawab Gara.
“Tidak! Saya tidak butuh jawabanmu. Kamu harus pergi, Gara.”ucapan
Pak Dycal membuat Gara terdiam karena kaget. Gara juga tahu nada tegas
Pak Dycal membuat ucapannya tadi tidak bisa dibantah.


“Tapi saya merasa tidak sanggup meninggalkan keluarga saya,
Komandan.”Gara mencoba menolak dengan halus.
“Seegois itukah kamu hingga kamu tidak mau ikut meredakan peperangan
yang kata orang tidak akan pernah berakhir? Tidakkah kamu ingin
membuktikan hal itu tidak benar? Banyak, Gara yang ingin ikut
bertempur. Kamu yang sudah mendapat kepercayaan mengapa tidak kamu
jalani?”rayu Pak Dycal tetap dengan nada tegas.
“Jika memang banyak yang ingin ikut bertempur saya ikhlas tempat saya
dimiliki orang lain, Komandan.”ucap Gara.
“Jadi untuk ini kamu menjadi tentara dan berlatih setiap hari? Untuk
menjadi sosok penakut? Dari ribuan tentara di Indonesia kita hanya
bisa mengirimkan 200 terbaik dan salah satunya kamu. Kamu termasuk
yang terbaik, Gara.”ujar Pak Dycal membuat Gara termenung memikirkan 1
hal. Benarkan semua itu?


“Akan saya coba pikirkan dan bicarakan dengan keluarga saya,
Komandan.”Gara akhirnya mengalah.
“Kamu tidak bisa menolak, Gara. Wassalamualaikum.”Pak Dycal
mengakhiri teleponnya malam itu.
“Walaikumsalam.”jawab Gara walaupun telepon sudah diputus oleh Pak Surya.
“Tuhan!! Gimana caranya aku ngomong ke Wizzy? Aku enggak tega
YaAllah.”batin Gara penuh rasa sesak dihati.


*
Gara sudah berdiri tepat didepan pintu rumah pacar satu-satunya.
Semalam ia sudah memantapkan hatinya sendiri untuk berbicara 4 mata
tentang tugasnya itu. Gara siap melihat airmata pacarnya itu. Gara
telah siap menerima segala resiko. Walaupun kedua telapak tangan yang
dia masukkan kedalam saku celananya terasa sangat dingin dan sedikit
gemetar.


SRETTT!! DEG! Pintu rumah Wizzy sudah terbuka. Jantung Gara semakin
berdetak tak karuan. Tangannyapun semakin terasa dingin.
“Anggara.”panggil Wizzy. Gara tersentak kaget, dia terlalu grogi
untuk memikirkan pembicaraan tentang perang itu membuatnya tidak sadar
Wizzy sudah berada dihadapannya. Gara nyengir lebar berusaha tampak
seperti biasanya.


“Masa’ pacar datang enggak disuruh masuk sih.”canda Gara mencoba
mencairakan suasana hatinya sendiri. Wizzy tertawa kering dan langsung
memasuki rumah diikuti oleh Gara.
“Tumben pagi-pagi kesini?”tanya Wizzy saat sudah didalam rumah.
“Ohh, jadi pacar sendiri enggak boleh datang kesini?”Gara pura-pura marah.
“Hahaha.. Enggak kok, Arag. Kamu boleh dateng kapan aja dehh.”Arag?
Ya, itu adalah panggilan kesayangan Wizzy untuk Gara, nama Gara
dibalik begitupun sebaliknya ketika Gara memanggil Wizzy.
“Hmm…Yzzyw … Serius deh ini. Aku mau ngomong sesuatu kekamu.”Gara
mulai menjarah ke pokok pembicaraan.
“Apa’an, Arag? Kayaknya serius banget?”tanya Wizzy melihat raut wajah
Gara mulai mengeras.
“Kamu tahu kan kalo pekerjaan aku ini tentara?”Gara balik bertanya.
“Ya tahu lah. Udah 10 bulan kita pacaran.”jawab Wizzy.
“Kamu tahukan seorang tentara pasti akan terjun lapangan untuk
bertempur?”Gara kembali bertanya. Kini Wizzy memilih untuk diam dan
bersabar menunggu kelanjutan ucapan Gara.
“Saat ini waktu aku, Iz. Dalam waktu dekat aku harus turun
lapangan.”akhirnya Gara menceritakan sesuatu yang selama ini ia simpan
sendiri.
“Kemana?”suara Wizzy terdengan gemetar.
“Perbatasan Gaza, Iz.” Wizzy melongo saking kagetnya.
“Apa harus kamu, Ar?”Gara hanya mengangguk perlahan. Airmata Wizzy
mulai bercucuran dengan derasnya.
“Aku pasti kembali kok.”desah Gara seraya memeluk erat tubuh Wizzy.
Pundak Gara basah seketika terkana airmata Wizzy. Tapi Gara tidak
mengeluh sedikitpun, bahkan ia dengan sabar menepuk-nepuk halus pundak
Wizzy dan sesekali mengusap kepala gadis itu.
“Nikmati aja detik demi detik yang entah bisa kita rasakan lagi atau
tidak.”bisik Gara pelan tak terasa airmatanya ikut berjatuhan. Wizzy
memukulinya perlahan seperti tidak rela Gara berbicara seperti itu.
“Janji ke aku kamu bakalan balik kesini tapi. Tanpa luka, Ar!”seru
Wizzy ditengah-tengah tangisnya. Dekapan Gara semakin menguat seperti
tak ingin pergi meninggalkan Wizzy.
“I will come back for you, Dear. Be right back.”ucap Gara seraya
menghapus airmata yang memenuhi pipi Wizzy.
“I’m waiting you.”


Gara kembali mendekap tubuh Wizzy dengan eratnya. Membiarkan Wizzy
menghirup aroma tubuhnya yang mungkin yang bisa menemani hari-hari
Wizzy dan mungkin tidak akan bisa menenangkan Wizzy saat dia sedang
dilanda gundah. Airmata mereka berduapun kembali berjatuhan mengingat
harapan untuk kambali bersama seperti ini tidak dijanjikan.


*
8 September 2011 di Bandara Juanda terminal C, saat itu adalah saat
terberat untuk Gara. Saat ia harus meninggalkan semua orang yang ia
sayangi ditanah airnya, Indonesia.


“Jadilah pahlawan yang hebat!”ujar ayah Gara mencoba terlihat tegar
walaupun matanya berkaca-kaca. Gara langsung memeluk tubuh ayahnya
tercinta. Tangan ayah Gara menepuk punggung Gara lembut.
“Jaga diri ya, Anggara. Enggak ada yang boleh bikin kamu enggak
kembali untuk keluarga kamu ini.”ibu Gara tidak bisa menyembunyikan
rasa sedihnya.
“Kak, pulang dari Palestina kakak harus muncul di TV. Harus jadi
pahlawan yang berhasil meredakan perang disana ya, Kak.”ucap Angga,
adik laki-laki Gara yang tanpa sungkan langsung memeluk hangat
kakaknya itu.


“Disana jadi tentara yang bener. Jangan cari cewek baru.”pesan Wizzy
berusaha tersenyum meski itu tak sepenuhnya.
“Enggak mungkin lagi. Kan cuma kamu yang aku sayang.”Gara tersenyum
sendiri setelah berhasil meluncurkan gombalannya.
“Will miss you, dear.”ujar Gara sambil mengacak-acak poni Wizzy. “Big
hug!!”tanpa permisi Gara langsung memeluk tubuh Assyifa.
“Aku berangkat dulu ya semua. Do’ain aku terus ya.”pinta Gara
sekaligus sebagai salam perpisahan.


Kini Gara sudah pergi ke perbatasan Gaza. Untuk menjalankan tugasnya
sebagai tentara. Membantu untuk meredakan kekacauan antara Palestina
dan Israel. Tapi Semua orang percaya, Gara bisa kembali. Dia pasti
kembali untuk semua orang yang ia cintai dan mencintainya. Semua yakin
akan hal itu.


*
Pesawat yang ditumpangi ratusan tentara Indonesiapun melakukan
pendaratan disalah satu bandar udara yang berada di Palestina. 200
tentara asal Indonesia itu berjalan menuju mobil untuk melanjutkan
perjalanan ke pos mereka diperbatasan Gaza.
Perjalanan itu ternyata tidak memakan waktu terlalu lama. Sesampainya
di pos mereka langsung menyiapkan senjata untuk berjaga-jaga akan
adanya serangan dadakan. Senapan sudah tertata rapi diatas meja. Kini
saatnya tentara-tentara itu beristirahat dahulu.


Baru saja Gara menghampaskan tubuhnya disofa yang ada sudah terdengan
suara yang memekakkan telinga. BOM! Semua tentara yang tengah
berleha-leha langsung tersentak kaget dan berlari mengambil senapan
masing-masing dan bergegas keluar.


Gara berlari dibarisan depan. Dia yang terlonjak dari duduknya
pertama kali saking kagetnya tadi. Tapi Gara tiba-tiba berhenti
mendadak hingga membuatnya terjengkang. Ia hampir saja menginjak
sesosok mungil yang sudah berlumuran darah. Gara melihat tangan kanan
mungil miliknya itu hanya berjari 4. Dan Gara sangat yakin “suatu”
benda disebelah anak laki-laki itu adalah jari kelingkingnya yang
putus. Darah yang terus mengucur dari kepalanya membuat wajahnya
tertutupi oleh darah itu. Tapi Gara masih melihat dengan jelas
bibirnya masih berucap. Dia masih hidup dan dia bisa diselamatkan.
Dengan sigap Gara memapah anak itu ke tenda pengobatan. Gara terlihat
celingak-celinguk sendiri mencari perawat yang sedang jaga dan
gawatnya disana tak ada orang 1 pun! Tanpa pikir panjang Gara langsung
mengambil kotak obat yang ada dan berusaha mengobati luka anak
tersebut. Ternyata luka itu membutuh waktu lama untuk diobati. Baru
saja ia mau memerban luka ditangan anak itu ada seseorang bernama Gege
yang berlari kencang menghampiri Gara.


“Kita kekurangan armada, Gara.”seru Gege. Gara hanya bisa melongo
saja. 200 orang! Kemana mereka?
“Lebih dari separuh armada kita kehilangan nyawa mereka. Kamu harus
turun sekarang juga.”lanjut Gege dengan nada sedikit memaksa.
“Tapi dia juga butuh pertolongan, Ge.”Gara menunjuk kearah anak
laki-laki yang diselamatkannya tadi. Anak itu menggeleng pelen
pertanda ia akan baik-baik saja. Gara hanya menghela nafas panjang.


Tangannya menggenggam telapak tangan kanan anak laki-laki itu. Gara
dan Gege berlari keluar menuju medan pertempuran kembali.
“Allahu akbar!!”teriak seseorang dari kebangsaan Israel langsung
meluncurkan sebuah tembakan kearah Gara dan Gege. Kedua lelaki itu
langsung tiarap untuk menghindari peluru dari senapan orang Israel.
“Gara, sepertinya terlalu berbahaya. Untuk saat ini. Kita harus
kembali terlebih dahulu. Kalau tidak tentara Indonesia bisa
habis!”bisik Gege masih dalam keadaan tiarap.
“Dan membiarkan lebih banyak anak kecil kehilangan jarinya? Membuat
lebih banyak warga Palestina dan Israel kehilangan nyawa? Untuk apa
kita berlatih setiap hari, pagi, siang, malam? Untuk bertempur!”tolak
Gara.
“Dan untuk apa teman-teman kita rela kehilangan nyawa mereka? Jangan
biarkan nyawa mereka hilang sia-sia.”Gege masih bicra dengan berbisik.
“Kalo kamu mau mundur terserah. Aku tetap akan maju.”tegas Gara yang
langsung mengendap-endap maju.
“Gara! Ra! Anggara!”panggil Gege. Tapi tetap saja Gara ‘ngeyel’ untuk
tetap maju untuk bertempur. Gege berdecak sebal. Tapi dia tetap setia
kawan, ia mengikuti langkah kaki Gara.
“ALLAHU AKBAR!!”sekali lagi ada yang berteriak lalu melepaskan
tembakan. Nyaris mengenai pelipis Gara!
“ALLAHU AKBAR!!”Gara tahu akan ada tembakan lagi ia pun ikut
melepaskan satu tembakan. Tapi sayang tembakan orang Indonesia tidak
sejitu tembakan orang Israel. Buktinya tembakan Gara jauh diluar
target sedangkan tembakan orang Israel yang baru saja ditembakkan
melayang bebas menuju targetnya, meliuk-liuk bagaikan kupu-kupu yang
sedang menari. Dan akhirnya sampai pada target utama. Lengan Anggara
Permana Hadiansyah. Gege yang menyaksikan hal itu tidak bisa berbuat
apa-apa, dia terlalu shock. Tentara handal seperti Gara pun akhirnya
tidak bisa lepas dari peluru Israel.
“Anggara. Kamu masih bisa bertahan kan?”tanya Gege. Gara hanya bisa
menggeleng. Tangannya mencengkeran pergelangan tangan Gege. Mulutnya
seperti mengucapkan sesuatu. Gege mencoba menajamkan telinga.
Astagfirullah, Gara mengucapkan syahadat. Gege bukan orang Islam
memang, tapi dia mengerti orang islam selalu berusaha mengucapkan
syahadat diakhir hayatnya berarti….
“It’s immposible. Gara? Are you die?”Tanya Gege lagi. Lucu memang.
Pertanyaan yang sungguh aneh bahkan Gara bisa menyunggingkan seulas
senyum manisnya sebelum nafas terakhirnya berhembus. Dia menutup mata
untuk selama-lamanya dihiasi dengan senyuman.


*
Disaat itu disaat yang sama. Diwaktu yang sama. Disaat peluru itu
berhasil merebut nyawa Gara, Wizzy yang sedang menemani adik-adik
sepupunya yang terlalu hiperaktif itu juga mengalami insiden.
“Aduhh!!”teriak Wizzy. Ada sebuah batu kecil terjatuh ketanah. Baru
saja batu itu mengenai lengan Wizzy. Ada seorang anak laki-laki
berumur 4 tahun yang tertawa puas.
“Cuya!!! Jangan nakal!!!”teriak Wizzy dengan sebal. Anak laki-laki
itu masih terus tertawa, tangan mungilnya mengacung-acungkan sebuah
ketapel. Wizzy tidak menghiraukan kelakuan sepupunya yang satu itu.
“EVERYBODY STANDUP!! INDONESIA STANDUP!!…”ringtone handphone Wizzy
berdering nyaring pertanda ada SMS yang masuk. Dia membukanya,
ternyata dari Angga adik Gara. Entah mengapa jantung Wizzy berdetak
tak karuan. Ia sangat takut terjadi sesuatu dengan Gara.
“Mbak, please see metro now. Don’t be sad :)”DEG! Detak jangtung yang
tadi berdetak tak karuan kini serasa berhenti. Don’t be sad? Pasti
terjadi sesuatu dengan Gara!
Wizzy langsung berlari menuju kedalam rumah. TV disana memang menyala
tapi tidak ada siapapun yang melihatnya. Wizzy langsung menggantinya
ke channel yang dimaksud Angga.
“Peperangan antara Israel dan Palestina memang sudah seperti abadi,
tidak bisa diatasi. Buktinya para tentara yang baru saja dikirim ke
Palestina sebagai bala bantuan pun tak kuat mengatasinya. Banyak
diantara mereka yang kehilangan nyawa dihari pertama
bertugas.”pernyataan penyiar berita itu membuat lutut Wizzy lemas
seketika. Apa Gara salah satunya?


“Berikut korban yang sudah berhasil diidentifikasi. Korban yang sudah
diketahui identitasnya akan dikirim lagi ketanah asalnya.”lanjut
penyiar itu lagi.
“Mbakkk Wizzy!!!! Kok diganti sih!”rengek Helan, adik sepupu Wizzy
yang lain. Wizzy tetap diam. Dia sedang sibuk melihat tulisan super
kecil di layar TV. Baru saja Wizzy mencari dia sudah berhasil
menemukan sesuatu yang tak ingin ia temukan. Nama  Anggara Permana
Hadiansyah.
Helan mulai menangis karena channel TV-nya sudah diganti tanpa
permisi oleh Wizzy dan ia tak mau menggantinya lagi. Wizzy tetap
terdiam, mulutnya terlalu kelu untuk berbicara. Tangannya terlalu kaku
untuk mengganti channel TV-nya kembali. Tapi Wizzy malah ikut menangis
seperti Helan, bahkan lebih keras.
“Anggara.. Apa hanya sebatas ini hubungan kita? Haruskah kita
berakhir cukup sampai disini? Aku tahu semua itu … harus. Tapi rasanya
aku terlalu rapuh untuk iru.”batin Wizzy dengan hari yang perih.


*
Angga terus menepuk-nepuk pundak Wizzy yang masih menangis tak ada
habisnya. Jenazah Gara memang sudah sampai sedari kemarin malam, Wizzy
pun sudah berada disini sedari malam kemarin juga. Airmatanya sangat
setia menamaninya.
“Udah, Wiz. Kak Gara bakal jitak aku kalo kamu nangis terus
gini.”desah Angga. Kalo saja Wizzy tidak sedang berkabung dia yang
akan menjitak Angga karena kebiasaannya ‘njangkar’ kepada Wizzy tidak
pernah bisa hilang.
“Ga, aku bolehkan peluk Gara untuk terakhir kalinya ya?”tanya Wizzy
kepada Angga. Angga hanya bisa garuk-garuk kepala yang sebenarnya tak
merasa gatal sama sekali. Angga bingung, sudah bolak-balik Wizzy
memeluk jenazah Anggara. Haruskah lagi?
“Terakhir, Ga.”pinta Wizzy dengan mengiba. Akhirnya Angga mengangguk pelan.
Wizzy langsung mendekati jenazah Gara. Dia mengusap airmata yang
tersisa disekitar matanya. Airmatanya serasa hampir habis untuk
seorang Gara, laki-laki yang menemani hari-harinya 10 bulan terakhir.
Wizzy langsung mendekap erat tubuh Gara yang kini terasa dingin
sekali. Berbeda dengan Gara yang dulu yang penuh kehangatan. Wizzy
menatap wajah Gara. Wajah yang akan selalu dihatinya meski raganya
tiada disampingnya.


Wizzy kembali memeluk erat tubuh Gara. Menghirup aroma tubuhnya yang
khas yang kini tidak bisa menenangkannya disaat ia merasa kesal,
gundah, galau, dan segala tetek bengeknya. Hanya aroma tubuh Gara yang
selalu berhasil membuatnya kembali tenang. Kini semua tidak bisa ia
dapatkan lagi.


“Terimakasih Anggara untuk 10 bulan yang indah. Maaf jika aku belum
bisa jadi pacar yang sempurna. Maaf aku tidak berhasil mencegah kamu
untuk tidak ke perbatasan Gaza hingga kini kamu harus pergi untuk
selamanya. Tapi perlu kamu ingat, aku masih mencintaimu. Dihatiku
selalu ada kamu. Itu janjiku padamu. Sekarang ini adalah detik
terakhir dimana aku bisa melihat ragamu disisiku. Dan aku tidak akan
pernah melupakan detik terakhir ini. Detik terakhir ini tidak akan
membuat segala perasaanku padamu berakhir sampai didetik terakhir ini.
Selamat jalan, Anggara.”batin Wizzy saat kain batik yang tadinya
menutupi 3/4  tubuh Gara menjadi menutupi seluruh tubuh Gara.

Terimakasih yang mau baca😀 ceritanya aneh yah? kayak autornya😀 nyahahahaha😀

FB : Assyifa Widiastomo

One comment on “Detik Terakhir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s